Kerja Keras adalah Wujud Syukur, Keteguhan Hati dan Keserhanaan

Dahlan Iskan

Bekerja Keras dan Berprestasi

Belia adalah seorang yang berasal dari daerah Magetan. Tumbuh dari warga pedesaan membuat beliau lebih bisa merasakan susahnya sebagai warga miskin. Barangkali karena tingkat kemakmuran orang pedesaan berbeda jauh dengan warga kota dan akses pendidikan yang minim. Sehingga untuk mendapatkan sekolah yang baik harus pindah ke daerah kota. Berkarier mulai dari membesarkan perusahaan Tempo sampai menjadi CEO PLN, saya kira merupakan perjalanan karier yang panjang. Tidak asing terdengar tentang prestasi-prestasi beliau sewaktu menjabat sebagai CEO PLN. Seperti pembangunan Pembangkit dalam skala besar di luar pulau Jawa seperti Sumsel, Riau, Kalsel, Bali, Kalteng, dsb. Sebut saja seperti

“Wamena yang listriknya harus cukup dan 100 persen harus dari tenaga air tahun depan”.

“Ke Flores yang membuat saya bersumpah untuk menyelesaikan PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi) Ulumbu sebelum Natal ini. Saya tahu, teman-teman di Ulumbu bekerja amat keras agar sumpah itu tidak menimbulkan kutukan”

“ke Bali, membayangkan transmisi Bali Crossing yang akan menjadi tower tertinggi di dunia. Ke Banten Selatan dan Jabar Selatan yang tegangan listriknya begitu rendah seperti takut menyetrum Nyi Roro Kidul.”

“Saya teringat Medan dan Tapanuli: alangkah hebatnya kawasan ini kalau listriknya tercukupi, tapi juga ingat alangkah beratnya persoalan di situ: proyek Pangkalan Susu yang ruwet, izin Asahan 3 yang belum keluar, PLTP Sarulla yang bertele-tele, dan Bandara Silangit yang belum juga dibesarkan.”

“ke Jambi yang akan menjadi percontohan penyelesaian problem terpelik sistem kelistrikan: problem peaker. Di sana lagi dibangun terminal compressed gas storage (CNG) yang kalau berhasil akan menjadi model untuk seluruh Indonesia. Saya ingin sekali melihatnya mulai beroperasi beberapa bulan lagi. Masihkah saya boleh menengok bayi Jambi itu nanti?”

“Juga ingat Seram di Maluku yang harus segera membangun minihidro. Lalu, bagaimana nasib program 100 pulau harus berlistrik 100 persen tenaga matahari. Ingat Halmahera, Sumba, Timika.”

Sehingga pada akhir tahun 2012 merupakan catatan yang mengesankan dari perusahaan PLN kita. Walaupun saya bukan orang dengan latar belakang tenaga elektrik, tapi saya bangga terhadap perusahaan PLN. Saya pun pernah merasakan sendiri mengambil kuliah power di ITB dan dihajar dosen2 seperti pak John, pak Soedaryatno. Hmm….mereka adalah tantangan tersendiri. Karena orang-orang PLN memiliki latar belakang engineering dan teknologi, sebab itu mereka bisa melakukan adaptasi dan problem solving dengan cepat. Sehingga mau tidak mau PLN harus maju karena sudah punya segala-galanya dan tinggal mendrive SDM nya untuk maju dan memperluas skala pembangunanan pembangkit listrik di seluruh Indonesia. Go dan semoga sukses PLN dan semoga bisa terjadi pemerataan sumber energi listrik yg mencakup seluruh wilayah indonesia.

Keteguhan Hati

Yang membuat saya bergidik adalah keteguhan hati beliau sewaktu melakukan proses transplantasi hati di Cina. Sewaktu pulang mengelilingi wilayah Indonesia timur pada usia 60 tahun, pak Dahlan mengalami muntah darah saat bangun tidur. Diagnosa dokter menyebutkan terdapat kanker yang menggerogoti hati beliau, sehingga dalam 2 tahun jika tidak dilakukan transplantasi hati maka beliau akan meninggal.  Secara medis tidak semudah itu melakukan transplantasi hati karena resiko nya yang tinggi sehingga jika hati yang terimplant tersebut melakukan perlawanan maka bisa menyebabkan komplikasi yang berujung pada kematian. Penyakit liver ini sebenarnya juga telah merenggut saudara2 pak Dahlan yaitu dari paman dan kakak kandungnya. Menghadapi operasi beliau ditemani oleh istri, anak dan teman-teman dekatnya untuk menjaga badan agar tetap fit. Ia juga tak boleh makan makanan sembarangan. Karena ia tak peduli pada badan dan gila kerja, jadi agak terlambat mengetahui penyakit nya. Setelah divonis kanker, ia diberikan 2 pilihan “jika tidak transplan, bisa meninggal dalam 2 tahun. Kalau transplan, mungkin meninggal, mungkin juga hidup. Saya pilih kemungkibnan kedua. Dalam hidup, saya sudah merasa puas dan sukses. Anak-anak juga sudah mapan dan bisa diberi tanggung jawab. Tidak ada yang disesali dalam hidup jika kemungkinan buruk terjadi saat operasa”, katanya.  Pasca transplantasi pun beliau masih sempat menuliskan pengalaman harian dalam buku “Ganti Hati”. Saya sebenarnya, pengen banget baca buku ini, tapi apa daya.

Keserhanaan

Yang membuat saya tersenyum sendiri adalah kesederhanaan beliau. Walau sudah menduduki posisi seperti sekarang, ia tidak melupakan tentang arti kesederhanaan. Sebut saja kisahnya ketika ia akan mengikuti rapat menteri di istana bogor. Ia berangkat dengan menaiki kereta dari Jakarta ke Bogor. Ketika  ia makan soto kuning di stasiun bogor, ia pun meracik sotonya sendiri.  Selesai makan soto, ketika hendak mencari mobil di stasiun tapi tidak menemukannya, ia langsung naik ojek ke Istana bogor. Sempat dihentikan satpam di istana bogor karena si satpam mengira bahwa ia bukan seorang menteri. Mana ada menteri kok naik ojek…haha. Tapi akhirnya ia dipersilahkan masuk. Haha…ada2 aja pak Dahlan.

Cerita kesederhanaan yang lain adalah kebiasaan beliau makan dari makanan bekal yang telah disiapkan oleh bu Dahlan sendiri.  Ketika itu sambil menunggu datangnya Dirut Pertamina, Pak Dahlan makan siang. Dia mengambil sendiri, menyajikan sendiri dan piring bekas makannya dia bawa sendiri ke ruang sekretariat Dirut. Rupanya ada bekal yang sudah disiapkan Bu Dahlan, istrinya, dari rumah yang disimpannya di belakang kursi kerja Dirut. Selain nasi putih, ada ayam dan ikan yang digulai, kemudian sayur berwarna hijau.

Mari pak Dahlan, sy tunggu langkah-langkah realistis anda di BUMN seperti yang anda lakukan di PLN, Tempo.

Kesimpulan

Kesimpulannya seperti kata beliau bahwa “Kerja keras adalah wujud rasa syukur kita dalam hidup yang singkat ini”. Tentu tidak mudah menjalani proses hidup itu. Keteguhan, ketulusan dan keikhlasan hati kita bakal diuji. Semua proses perlu kita lewati. Itu adalah upaya untuk mendewasakan diri kita. Mulai dari sekarang kita menyiapkan bekal kita karena 10 tahun lagi kita bakal menjadi orang yang berbeda, 10 tahun lagi perbedaan antara orang yang siap dan tidak siap akan semakin besar. Bekerja cerdas, keras dan berprestasi akan membuat hidup kita lebih berarti. Mari kita mengisi hidup ini dengan menghargai setiap waktu yang kita lewati. Kadang-kadang lelah karena bekerja keras itu wajar, karena kita manusia tapi dengan menikmati semua proses itu akan terasa menyenangkan. Tapi ada yang lebih penting daripada bekerja keras saja, yaitu hubungan dengan Allah, relasi (teman), kesehatan dan pikiran kita harus dijaga karena mungkin suatu saat itulah yang itulah yang mengantarkan kesuksesan dunia dan akhirat kita. Tapi sesukses apapun kita, tetaplah sederhana yang menjadi ciri khas kita.

credit :

http://dahlaniskan.wordpress.com/2011/10/20/inikah-kisah-kasih-tak-sampai/

http://www.hilmifirdaus.com/2011/12/foto-dahlan-iskan-naik-krl-dan-makan.html

Categories: Article and motivation! | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Ada Tambahan ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: